Presiden, Keluarlah Dari Jebakan Pertumbuhan Ekonomi
Para pembaca yang budiman, di bawah ini kami posting kembali artikel menarik dari sayangi.com. Silakan ditanggapi.
Jakarta, Sayangi.com – Kini, mengulangi pemerintahan yang digantikannya, Presiden Jokowi dan Wapres JK memuja pertumbuhan ekonomi. Dengan dalih membuka lapangan pekerjaan dan pengisian APBN, berkelilinglah Presiden mengundang investor asing.
“Apakah itu efektif? Jawabannya jelas tidak. Kreasi dan mimpi pertumbuhan 2-7 prosen dijadikan mantra. Seolah-olah itu satu-satunya hal terpenting. Tapi, tumbuh dari mana, oleh siapa, untuk apa, demi siapa dan dengan dasar apa tak pernah diperdebatkan dengan akal sehat,” kata ahli ekonomi politik Pusat Kajian Pancasila dan Kepemimpinan (PKPK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Yudhie Haryono dalam rilis yang diterima Sayangi.com, Senin (24/11).
Karena tidak diperdebatkan dengan akal sehat, kata Yudhie, maka yang terjadi adalah: dari asing, oleh asing, untuk asing, demi asing dengan landasan pasar bebas dan pertumbuhan (saja). Lahirlah pembangunan di Indonesia, perbankan di Indonesia, pertumbuhan di Indonesia, industri di Indonesia.
“Tapi semuanya tidak “menyejahterakan umum” dan mengadilkan struktur ekonomi kita. Tentu saja ini mengkhianati konstitusi (Pancasila dan UUD45). Sebab konstitusi kita bicara keadilan sosial di seluruh Indonesia: pembangunan Indonesia; bank Indonesia; ekonomi Indonesia,” tulisnya lagi.
Yudhie melanjutkan, harusnya pembangunan ekonomi oleh Indonesia, dari Indonesia, untuk Indonesia, demi cita-cita berbangsa-bernegara Indonesia. Arti luasnya, tambah Yudhie, “pemerataan eko-politik” sebagai basisnya.
“Ingat, tidak tiap pertumbuhan melahirkan pemerataan. Sebaliknya setiap pemerataan melahirkan pertumbuhan. Kini saatnya Jokowi “memecahkan langit-langit kaca.” Pekerjaan crank dan menyimpang dari arus utama ekonomi-politik masa lalu yang jelas gagal dan mengkhianati konstitusi serta rabun sejarah,” demikian Yudhie.
Jika tidak, lanjutnya, rasio gini kita pasti melebar kembali; pengangguran meningkat, kerusuhan menghadang dan instabilitas datang. Rasanya, kampanye Tuan Presiden harus kembali ditajamkan dalam kebijakan.
“Keluarlah dari jebakan pertumbuhan semu, masuklah pada pembangunan subtansi,” tutupnya.***********

0 komentar :
Posting Komentar