Banyumas Bukan Indonesia
Yudhie Haryono—www.yudhieharyono.com
Jika Indonesia hanya mampu memproduksi kisah tragedi dan ironi, tentu Banyumas bukan Indonesia. Jika pemerintah pusat di Jakarta hanya bisa mengkhianati konstitusi, tentu kami (warga Banyumas) bukan bagian dari Indonesia. Jika negara Indonesia hanya bisa membuat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) berkembang biak, tentu Banyumas bukan bagian dari Indonesia. Jika bangsa Indonesia hanya bisa membuat konflik (antar agama, antar suku, antar kaya-miskin, antar bodoh-pintar), tentu Banyumas bukan bagian dari Indonesia.
Jika pemimpin kita di Jakarta hanya bisa membuat kesenjangan (pusat-daerah, kaya-miskin, sekolah-tidak sekoah, kerja-pengangguran, laki-perempuan), tentu Banyumas bukan bagian dari Indonesia. Jika para kabinet di Jakarta hanya bisa utang dan mewariskan utang, tentu Banyumas bukan bagian dari Indonesia. Jika para elite di Jakarta hanya bisa mengumbar amoralitas dan kuasa modal, tentu kami di Banyumas bukan bagian dari Indonesia. Walau begitu, kami cinta Indonesia meski lebih cinta Banyumas tentunya.
Memang, sikap ini bukan baru, juga bukan ngawur. Sebab, sikap ini jelas sangat jernih karena secara sengaja para pengurus negara hari ini hanya bisa menghasilkan korupsi, konflik, kesenjangan, kutukan alam (4K) sebagai tradisi baru dan sebagai warisan anak-cucu.
Mari kita lihat dalam tradisi korupsi. Sejak awal, SBY janji dalam iklan politik sebagai pribadi dan partai anti korupsi. “Katakan tidak” adalah mantera yang selalu diulang-ulang dalam bualan kampanyenya. Nyatanya, partainya jadi juara korupsi dan kader-kadernya paling hebat dalam korupsi. Tesisnya kemudian mengatakan bahwa kader yang korup hanya hidup di antara pemimpin yang korup. Sebab, tidak mungkin kader korup jika pemimpinnya tidak korup. Hanya para pembohong yang hidup bahagia di sekita raja kebohongan. Ini jenis logika anak SD yang sangat mudah dipahami.
Pajabat-pejabat zaman reformasi memang luar biasa dalam menyogok, menyuap, mengutil, mencuri dan merampok harta rakyat. Jika zaman orde lama para pejabat mencuri di bawah meja, lalu meningkat zaman orde baru di atas meja, eh zaman SBY dengan meja-mejanya dicuri juga. Praktis rakyat tak kebagian, tak dapat sisa. Lah mejanya saja dikorup? Bagaimana rakyat dapat bagian?
Kalau masih tak percaya, mari kita tengok KPK, Kejaksaan, Kepolisian dan penjara. Ah luar biasa banyaknya pejabat Indonesia sebagai pelakunya. Hampir-hampir berbanding 180 derajat dengan warga negara biasa. Singkatnya, rezim Indonesia hari ini adalah produsen koruptor terdahsyat sepanjang masa walau hanya mengulang tradisi korupsi sejak zaman VOC, Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Orde Lama dan Orde Baru. Mirisnya, tradisi korupsi ini dibarengi dengan ibadah ritual yang tinggi: travel haji dan umrah penuh, liburan spiritual lainnya berdesakkan, pengajian-pengajian meluber. Pelakunya juga aneh: jika dulu koruptor dengan sesama koruptor (teman), lalu meningkat dengan istri atau suami, lalu menajam dengan anak plus cucu. Lihat di penjara; banyak keluarga (suami istri, bapak anak, famili sekondan) dipenjara dalam sel yang sama.
Lagi-lagi para koruptor itu diistimewakan, dilayani, dihukum ringan dan masih bisa menjabat setelah keluar dari penjara. Inilah republik sorga koruptor terbaik di dunia dan akherat. Dan, ingatlah bahwa pusat korupsi itu masih di istana, tangsi tentara (polisi) dan china.
Mari kita lihat dalam tradisi konflik. Sejak tahun 2004 setelah berkuasa, rezim SBY melahirkan satu kali konflik antar agama dan antar suku setiap hari. Itu artinya selama tujuh tahun memimpin, tak ada hari tanpa konflik. Spektrum dan pelakunya juga meluas bukan hanya antar agama dan suku tetapi juga antar pendukung calon pemimpin dan pendukung kesebelasan. Rumah ibadah dibakar, rumah agamawan lain dibakar, kantor KPUD dibakar, kantor polisi dibakar, kampus dibakar, mobil pembawa suporter kesebelasan dibakar, sekolahan dan teman kuliah dibakar, tawuran masal saling membakar.
Ini adalah jenis pembakaran baru sebab kita dulu hanya bakar sate dan memancing ikan di kolam. Tetapi sejak SBY berkuasa, hobi pejabat bertambah menjadi bakar yang berbeda danmancing kerusuhan. Praktis hobi ini ditradisikan dan maunya diwariskan pada semua kalangan. Makanya, kurikulum sekolah dan kuliahnya juga dibakar diganti dengan saling bakar-membakar agar mudah dijual murah ke pemodal asing.
Mari kita lihat dalam tradisi kesenjangan. Rezim hari ini berhasil membuat konglomerat-konglomerat baru di semua lini (media, perbankan, ritel, konstruksi dan SDA). Tetapi saat yang bersamaan juga melahirkan jutaan orang miskin di seluruh desa di Indonesia. Rasio gini atau gini ratio per Maret 2012 mencapai 36.9. Bukti tak terbantahkan dari kapitalisasi oligarkis yang melahirkan kaum miskin dan kesenjangan adalah berkuasanya 6.2% penduduk, menguasai aset nasional. Sedangkan 93.8% penduduk, mendapat sisanya, rilis Badan Pertanahan Nasional (BPN, 9:2010). Tentu, dengan komposisi yang demikian timpang, sebaran kesejahteraan tak akan terwujud, pertumbuhan ekonomi yang rendah menjadi mubazir, kesenjangan ekonomi meningkat dan kerusuhan sosial terjadi tiap hari. Laporan itu juga menjadi indikator bahwa pertumbuhan ekonomi selama tujuh tahun kinerja SBY tidak dapat diartikan hebat karena yang tumbuh sesungguhnya hanya dinikmati 6.2% penduduk. Tentu, dengan angka pertumbuhan rata-rata 6% tiap tahun menjadi pertumbuhan yang tidak berkualitas dan tidak bermakna karena hanya segelintir orang yang menikmati dan menguasainya. Ingat, rezim ini memproduk angka bahwa tiap lima orang, dua di antaranya adalah kaum miskin. Sebuah angka yang akhirnya menguatkan terjadinya kesenjangan ekonomi secara luar biasa.
Mari kita lihat dalam tradisi kutukan alam. Catatan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) terhadap kutukan alam pada kita adalah terjadi dua kali setiap hari. Mulai dari gempa, banjir, gunung meletus, tsunami, tanah longsor, kekeringan dan berkembangnya penyakit yang sangat cepat dan meluas. Di Indonesia sejak SBY berkuasa, praktis tidak ada daerah yang tak menerima bencana. Ia bukan datang sekali dua kali setahun melainkan mengintai tiap kali. Bahkan ada yang datang berulang-ulang sampai penduduknya hapal dan meyakini bahwa itu semua peringatan dari Tuhan dan alam raya dikarenakan kesalahan mereka dulu dalam memilih presiden. SBY bagi banyak orang menjadi sumber kutukan dan penyebab kemarahan alam yang ditimpakan pada semua warga negara. Lahirlah kalimat Susilo Nyudo Nyowo (Jenderal Yang gemar Mengambil Nyawa Rakyat).
Singkatnya, para pajabat, elite dan manusia Jakarta dan Indonesia hari ini hnya berhasil menjadikan siapa saja menjadiuwong (kaya materi dan kedudukan) tetapi gagal menjadikan siapa saja menjadi menungso (kaya hati dan kebijaksanaan). Uwong adalah manusia pemburu nikmat (the will to pleasure), pemburu angka dan kuasa, rego lan kursi (homo economicus). Sedang menungso adalah pemburu makna (the will to meaning), pemburu subtansi dan hakiki, urip kanggo urup (homo pancasilais). Mereka jadi penguasa tua yang tidak melakukan filsafat solus populi suprema lex esto (keselamatan dan kesejahteraan rakyat menjadi hukum tertinggi). Mereka hanya melakukan kejahatan terburuk (ultimate crime) yang diulang-ulang. Mereka bicara dan pidato Pancasila tetapi kelakuannya khianat dan menyelingkuhinya. Mereka menjual dan mengobral kekayaan rakyat sambil mewariskan utang per Oktober 2012 sebesar Rp.6.000 Triliun yang harus dibayar warga negara sehingga pajak naik, sekolah mahal, makanan jarang, kesehatan mahal, rumah mahal, bensin sangat mahal dan biaya hidup makin mahal tak terjangkau.
Sedangkan kami yang di Banyumas tentu bukan bagian dari kejahatan itu semua. Sebab yang kami praktekkan adalah laku Pancasila, kata Pancasila dan imaji Pancasila. Warga Banyumas melakukan hasta brata dalam kepemimpinannya. Warga Banyumas sangat sederajat dan anti feodalisme dalam kehidupan kesehariannya; kami melakukan ritual blaka suta, apa anane bae.
Warga Banyumas adalah mereka yang mendidik tanpa membidik jabatan, mengajar tanpa mengincar kekayaan, berdakwah tanpa menjangkah ketenaran, membantu tanpa menunggu imbalan, berpartai tanpa harus jadi dewan, menduduki kursi tanpa mengharap upeti, menjadi politisi tanpa korupsi, berjuang tanpa harus menang. Basisnya ikhlas bergerak, padamu negeri raga kami berbagi, padamu bangsa jiwa kami mengabdi. Karena sifat, sikap, bahasa, agama dan cita-cita yang berbeda dari Indonesia hari ini maka kami yakin Banyumas bukan Indonesia.
Wahai para elite dan pemimpin Indonesia, wahai SBY dan kroninya, “kami tak sedih jika kalian mati atau bunuh diri. Kami juga tak bahagia jika kalian memimpin dan berkuasa.” Kehadiran kalian tak menggenapi, kepergian kalian tak mengurangi. Banyumas tetap akan abadi dengan citra dan sepakterjangnya sendiri.[]


